Saat Anda tidak tahu seperti apa HR yang baik itu — apalagi kandidat HR yang baik
Founder yang sudah dua kali mempekerjakan HR Generalist dan dua kali tidak puas sering punya akar masalah yang sama: mereka belum tahu seperti apa standar HR yang baik di perusahaan mereka. Polanya: alihdayakan fungsi dulu, adopsi sistemnya, baru rekrut internal kalau perlu.

Tanda-tanda Anda menghadapi momen ini
- Anda sudah mempekerjakan satu atau dua HR — tidak ada yang bertahan
- Payroll kadang terlambat, BPJS terlewat, dokumen ketenagakerjaan berantakan
- Anda sendiri tidak yakin proses HR yang Anda butuhkan seperti apa
Konteksnya
Pola yang sering kami temui di perusahaan teknologi yang tumbuh cepat: dari 30 ke 80 karyawan dalam waktu kurang dari setahun, dengan dua kali pergantian HR Generalist.
Setiap kali ada karyawan masuk atau keluar, payroll bermasalah, BPJS tidak terurus, dan dokumen ketenagakerjaan tidak rapi. Founder mengakui terus terang: 'Kami tidak tahu HR yang baik itu seperti apa, jadi kami juga tidak tahu kandidat seperti apa yang harus kami cari.'
Pendekatan yang Berhasil
Pola yang berhasil: alihdayakan fungsi HR administration ke pihak yang sudah punya playbook teruji. Klien mengadopsi sistem yang ada, dan saat siap merekrut tim internal, dokumentasi prosesnya sudah lengkap untuk diserahkan.
- Proses onboarding terstruktur (kontrak, perpajakan, BPJS, akses sistem, briefing kebijakan)
- Payroll bulanan termasuk PPh 21 dan BPJS Kesehatan/Ketenagakerjaan
- Manajemen cuti dan leave tracking
- Pengelolaan dokumen karyawan sesuai standar kepatuhan
- Offboarding yang rapi termasuk exit interview dan settlement
Klien tidak perlu menentukan 'apa yang benar' — mereka mengadopsi sistem kami. Saat siap membangun tim HR internal, dokumentasi sudah matang dan siap diserahkan.
Yang Berubah
- 100% kepatuhan terhadap BPJS, PPh 21, dan regulasi ketenagakerjaan sejak hari pertama
- Payroll on-time setiap bulan, tanpa eskalasi dari karyawan
- Dokumentasi proses HR yang lengkap — siap diserahkan ke tim internal di masa depan
- Founder kembali fokus ke produk dan pertumbuhan, bukan masalah administratif